by andry
Share
by andry
Share

Penulis: Nur Kamdani
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Namanya begitu besar, pemikirannya melampaui zaman, dan keberaniannya menjadi inspirasi lintas generasi.
Kartini bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah gagasan yang hidup tentang kebebasan berpikir, pendidikan, dan martabat manusia.
Namun, di balik cahaya yang begitu terang, sering kali kita lupa bahwa tidak ada cahaya yang berdiri sendiri. Ada ruang yang diciptakan, ada dukungan yang diberikan, dan ada peran-peran sunyi yang memungkinkan cahaya itu tetap menyala.
Di sinilah kita perlu melihat sosok Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Atau dalam refleksi ini kita sebut sebagai “Kartono”.
Sebagai seorang ayah dan juga bagian dari sistem feodal pada zamannya, Sosroningrat hidup dalam dilema. Di satu sisi, ia terikat oleh tradisi yang membatasi perempuan.
Di sisi lain, Kartono melihat potensi besar dalam diri anaknya. Ia mungkin tidak sepenuhnya melawan arus, tetapi ia membuka celah dengan memberi akses pendidikan, memperbolehkan Kartini membaca, berpikir, dan menulis.
Dalam keterbatasan, ia memilih untuk tidak mematikan cahaya itu. Di sinilah makna “Kartono” menjadi penting. Ia bukan tokoh utama dalam cerita, tetapi tanpa perannya, cerita itu mungkin tidak pernah ada.
Kartono adalah simbol dari banyak orang dalam kehidupan kita: orang tua, pasangan, sahabat, atau pemimpin yang tidak selalu tampil di depan, tetapi kehadirannya menentukan arah.
Kartini mengajarkan kita untuk berani bermimpi, menembus batas, dan memperjuangkan nilai. Kartono mengajarkan kita untuk memberi ruang, mendukung dengan tulus, dan percaya tanpa harus selalu terlihat.
Refleksi ini menjadi relevan dalam kehidupan hari ini. Dalam dunia kerja, organisasi, bahkan keluarga kita yang sering berlomba menjadi “Kartini”: tampil, berprestasi, dan diakui.
Itu penting. Tetapi jangan lupa, dunia juga membutuhkan lebih banyak “Kartono”: mereka yang mendorong dari belakang, menguatkan dalam diam, dan tidak haus sorotan.
Karena sejatinya, keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di panggung. Tetapi juga tentang siapa yang memastikan panggung itu ada.
Dalam kepemimpinan, ini adalah pelajaran besar. Pemimpin tidak selalu harus menjadi pusat perhatian.
Pemimpin sejati justru mampu menciptakan lebih banyak “Kartini”. Memberi ruang tumbuh bagi orang lain, bahkan jika itu berarti dirinya tidak selalu terlihat.
Dan dalam kehidupan pribadi, ini adalah pengingat tentang keseimbangan peran. Kadang kita harus berani menjadi Kartini. Tapi di waktu lain, kita perlu ikhlas menjadi Kartono.
Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu lahir dari kolaborasi antara yang bersinar dan yang menjaga.
Kartini adalah cahaya perubahan.
Kartono adalah penjaga cahaya itu tetap hidup.
Dan hidup yang bijak adalah ketika kita mampu menjadi keduanya pada waktu yang tepat.
STAY IN THE LOOP
Subscribe to our free newsletter.
Leave A Comment
NGANJUK – Suasana hari Minggu (9/8/2026) pagi terasa sejuk. Semilir angin tipis yang berembus, menambah sejuknya udara yang terhirup. Sejuknya udara pagi itu, menjadi lecutan semangat. Terutama bagi seluruh pegawai Bank Anjuk Ladang, yang saat itu melaksanakan kegiatan kerja bakti bersama-sama. Kegiatan tersebut adalah tindak lanjut dari Surat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nganjuk No: 600.4/1164/411.000/2026
NGANJUK – PT BPR Anjuk Ladang Perseroda menerima piagam penghargaan dari Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah (Korda) Mojopahit – Kelompok Kerja (Pokja) Nganjuk. Piagam tersebut diserahkan bertepatan peringatan HUT ke 28 IJTI, Minggu (9/8/2026). Penyerahan penghargaan berlangsung di kantor sekretariat IJTI Nganjuk. Organisasi profesi jurnalis TV tersebut menyerahkan apresiasi kepada Bank Anjuk Ladang
NGANJUK – PT BPR Anjuk Ladang Perseroda turut serta mendukung dan menyemarakkan peringatan HUT ke 28 Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah (Korda) Majapahit – Kelompok Kerja (Pokja) Nganjuk. Dukungan itu diwujudkan dalam bentuk peminjaman sejumlah tenda kerucut pada acara peringatan HUT IJTI, Minggu (2/8/2026). Tenda kerucut dengan tulisan dan logo Bank Anjuk Ladang
NGANJUK – ‘Hemat Pangkal Kaya’. Peribahasa itu masih sangat relevan hingga saat ini. Siapa yang berhemat, maka akan merasakan nikmatnya hasil ketika sudah cukup terkumpul. Dengan semangat tersebut, PT BPR Anjuk Ladang Perseroda intens mengajak masyarakat rajin menabung. Terutama bagi para siswa-siswi usia sekolah agar tidak boros dengan uang sakunya. Salah satu produk jasa keuangan
